Dalam beberapa hari ini aku terus membayangkannya, berharap dialah lelaki yang selama ini aku cari untuk menjadi pendamping hidupku. Kucoba menelusuri jejaknya dari sosial media. Tapi sayangnya, tak ada informasi apapun. Pada akhirnya aku memberanikan diri untuk mengatakan padanya melalui pesan singkat. “Maaf sebelumnya, saya hanya ingin mengatakan yang sebenarnya, bahwa saya ingin Anda bisa menjadi imam saya” Akhirnya pesan itu pun terkirim kepadanya. Hingga akhirnya 40 menit kemudian ponselku bergetar. Kucoba membuka kunci poselku. Kulihat satu pesan masuk. Tak asing lagi nomor ini adalah balasan dari pesanku tadi. Isi pesannya adalah. “Maaf mba, mungkin mbaknya bisa mencari yang lain, saya sudah ada calon mba.” Aku pun terdiam dan hampir meneteskan air mata. Dalam hati hanya berbisik, “dear Allah, hamba sudah pasrah Ya Allah, hamba nggak tau lagi harus seperti apa, hambamu sangat takut untuk berbuat maksiat. Ya Allah tolong hamba” Kucoba baringkan badan dan sambil beri...